Skip to main content

Nyawa Terakhir di Dunia Tanpa Peta

Aku melangkah ke dunia yang sunyi,
tanpa kompas, tanpa pelita di sisi.
Berbekal hati yang penuh cinta kuisi,
dan kepala penuh teka-teki yang menari.

Tak satu pun suara memberi petunjuk,
hanya diam yang menggema dan merasuk.
Ini bukan sekadar permainan biasa,
ini labirin tanpa batas dan tanpa jeda,
Setiap keputusan bisa jadi bencana,
atau harapan yang tiba-tiba menyala.

Aku belajar bagai buta yang meraba cahaya,
menyusun serpihan tanda tanpa suara.
Kutulis semua di lembar jiwa,
karena tak ada siapa pun yang bisa ditanya.
Tapi, sebetulnya bisa kuubah jalan,
meretas kode menuju jawaban.
Namun kupilih tetap bertahan,
demi sebuah pemahaman.

Dahulu aku punya tiga nyawa tersisa,
kugenggam erat bagai warisan semesta.
Karena kupikir masih ada yang bisa dijaga,
masih bisa pulih meski luka di mana-mana.

Kini tinggal satu denyut di dada,
berbunyi seperti genderang perang tanpa jeda.
Level ini tinggi—udara pun tak bersahaja,
tiap langkahku gemetar, tiap napasku bertanya.

Tubuhku luka, langkahku pelan,
namun aku belum ingin diam dan padam.
Kupilih tetap berjalan meski perlahan,
di antara puing dan harapan yang karam.

Kini aku berseru ke arah langit yang jauh,
bukan karena kalah—tapi nyaris rapuh.
Nyawaku sisa satu, nyaris luruh,
dan aku tak tahu apakah esok akan sembuh.

Permainan ini milikmu sejak mula,
kau atur alur, kau ciptakan segala.
Tugasku? Menari di ujung rencana,
di atas tali yang hampir patah di antara asa.

Jika aku jatuh, biarlah karena diriku sendiri,
bukan karena jebakanmu yang menanti.
Aku hanya ingin bertahan sepenuh hati,
walau akhirnya musnah dalam sunyi yang tak pernah memberi arti.


- perempuan penyuka bunga 

yang hatinya lara.


Comments

Popular posts from this blog

#Cerpen: Penonton dan Pengisi Acara

Di setiap acara, gadis berbadan mungil itu berusaha untuk menyempatkan waktunya menghadiri seminar, book discussion dan lain-lainnya. Seperti hari ini, ia menyempatkan waktu pulangnya untuk datang ke seminar literasi di fakultas ilmu sosial dan politik. Ia datang hanya seorang diri demi seminar yang mengangkat tema menurutnya menarik. Teman-temannya sudah tak heran melihat gadis itu yang nyeluntur sendirian tiap ada acara. Sasha, biasa gadis itu dipanggil. Paling senang menghadiri acara seminar dan festival literasi, diskusi buku, dan sejenisnya. Tak hanya mendatangi acara dengan tema-tema tertentu. Gadis itu rutin datang ke acara diskusi buku rutin yang diadakan tiap hari Rabu pukul empat sore oleh komunitas Diskala atau Diskusi Buku dan Literasi. Sasha termasuk yang aktif berpartisipasi dalam komunitas tersebut. Siang ini sehabis kelas, gadis itu melangkah masuk ke gedung fakultas sosial dan ilmu politik. Tubuhnya yang mungil dengan pakaian casual dan sneaker putih yang selalu...

#Cerpen: Cinderella di Satu Malam

B agian I : Warmindo dan Gelak Tawa Meja Nomor 7 R iuh tawa dari meja pojok membuat suasana ramai. Selepas kelas linguistik yang membuat gadis itu pusing tujuh keliling, ia ikut pergi bersama teman-temannya makan siang di Warmindo. Di meja nomor 7, ada Naila Khansa atau Caca biasa gadis itu disapa, sedang ramai-ramai bersama dua orang temannya menertawakan tragedi Emon di kelas. “Kata gue gini, Ca. Si Emon kok nggak datang-datang padahal minta di- book kursi kelas,” seru pria berbadan besar sambil bercerita yang beberapa kali diiringi tawa sekitar. Caca sering bercerita banyak hal kepadanya. Tino seperti psikolog bagi Caca. Tino pendengar dan penasihat yang baik. Ia tempat curhat Caca. Tino tipikal teman yang asik dan tidak hitung-hitungan terhadap temannya. Dia baik hati. Tapi sangat menyebalkan. Sangat sangat! Gadis itu receh. Beberapa kali tertawa renyah sambil sakit perut akibat tertawa mendengarkan Tino bercerita. “Anjing gue malu banget sial,” sahut pemuda kurus di sebel...